Mak Cik


Kita tak kata apa tapi dia kata semua,

Semuanya benar dari lohong mulutnya,

Kita tak kata apa tapi dia yang percaya,

Semuanya benar apa yang dicerita.

 

Bilakah?

Bilakah hendak berubah?

Bilakah hendak sempurna?

Bilakah kita masih ada masa?

 

Benarkah?

Benarkah sekadar teladan?

Atau bahan untuk hebahan?

Tenggelam dalam karma.

 

Kita tak kata apa tapi dia yang berkata,

Dan kita kata kita teramat tidak suka,

Kita tak kata apa, itulah yang kita kata,

Tapi benarkah kita memang tak berkata?

 

Jangan, jangan, jangan,

Tolong hentikan, hentikan, hentikan,

Tolong matang, matang, matang,

Jangan makan umpan yang terhidang.

 

Mohon jangan teruk berkata semua yang buruk,

Kerna kita tidak tahu apakah kita yang bobrok,

Atau memang semuanya dusta,

Semuanya fana,

Semuanya sama,

Semua berkata,

Semuanya serupa.

 

Dan pabila kau lewati malam hari pertama di era yang baru, baru kau teringat semua,

Baru kau teringat semua, baru kau teringat semua,

Baru kau teringat semua yang telah kau lupa.

 

Dan pabila malam bertandang dan mentari beradu, bulan bertandang,

Baru kau sedar jahat semua, jahat semua, jahat semua.

 

Dan pabila siang menjelma kau bangun dengan istighfar,

Mohon hati dibersihkan, mohon jiwa dibersihkan,

Mohon semuanya bersih, tapi mulut masih mengata,

Mohon semuanya indah, tapi hati masih mencela.

 

Janganlah, tolonglah, mohonlah,

Hentikan semua propaganda,

Hentikan merendah, henti meninggi diri,

Ucapkan syukur ke hadrat Illahi,

Itu saja sudah cukup,

Itu saja sudah memadai.

2.00am

2 Januari 2016

Advertisements
Mak Cik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s