Batas Diri (Aku Dengki)


Gunung yang tinggi pun batasnya terlekat di Bumi. Si sabit dalam jangkauan tapi masih kejauhan.
Gunung yang tinggi pun batasnya terlekat di Bumi. Si sabit dalam jangkauan tapi masih kejauhan.

Aku kata ekspresi,

Aku kata ekspresi diri,

Membebaskan yang terkongkong dalam diri yang agak lohong,

Agak kosong,

Agak hilang dalam keharuan,

Haru-biru bukannya warna, mohon kalian faham,

Yang biru bukan mata hitamnya,

Yang kelabu bukan di dalam anatomi tulang belakangnya,

Yang haru bukan musim bunga sana,

Negara matahari terbit yang tenggelam dalam dunianya,

Akhirat cuma mainan dunia kreatif,

Hanya tetapan untuk mereka hamparkan naratif,

Kita mencerca gaya hidup mereka,

Tetapi kita hidup dalam cerca pincang ego sendiri,

Kenapa dunia tak baik kepadaku,

Kau tanya tetapi kau segan untuk berusaha,

Kau berontak,

Kau menempelak,

Kau tersadung kaki sendiri,

Kau salahkan rata bumi yang kau jejaki,

Hidup dalam kitaran nahu yang terbatas,

Ekspresinya kelam tapi fikir dia tulis kalam,

Dia fikir dunia dibuat hanya dengan putih hitam,

Dia lupa nawaitu boleh jadi hijau kuning merah jambu,

Manusia, makhluk kontradiksi penuh dengan teori durjana,

Nampak dalam tapi hakikatnya sekadar nipis kulit bawang.

.

Oh ya,

Aku terlupa,

Nahunya terbatas,

Mohon kalian beri belas.

5.50pm

2 Mei 2015

Advertisements
Batas Diri (Aku Dengki)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s